Mengintip Prosesi Kure, Tradisi Paskah Tradisional di Noemuti TTU

Proses pengambilan air di kali untuk ritual Taniu Uisneno yang dilakukan oleh perwakilan dari 29 Ume Mnasi asal Kote, Noemuti di kali Noemuti.



TREBLUMAN /DOA PENGOSONGAN DIRI 

Prosesi Kure diawali dengan ritual pengosongan diri/boe nekaf pada hari Rabu satu hari sebelum memasuki Tri Hari Suci yakni ritual Trebluman. Semua rumpun suku ume uis neno berkumpul bersama-berdoa, merenung dan menyesali dosa – to’as, nek amle’ut polin- untuk siap memasuki minggu sengsara . Tempat tinggal- ume uis neno sebagai tempat awal memulai segala karya dan tempat kembali membawa suka dan duka juga harus dikosongkan dari pengaruh roh jahat. Utusan ume uis nenobersama umat berdoa bersama di gereja. Dengan menyalakan 13 lilin berbentuk kerucut mengelilingi altar yang melambangkan Yesus dan 12 rasul . Di setiap akhir lagu dipadamkan 2 lilin secara berturut-turut sampai lilin ke-12. Sedangkan lilin yang ke 13 yang dibiarkan bernyala disimpan di bawah altar, pada aat yang bersaaman lampu gereja dipadamkan dan lonceng gereja dibunyikan 3 kali. Sala satu tahapan yang penting juga adalah tahapan pengusiran roh jahat. Bersamaan dengan dibunyikan lonceng yang ke-tiga, umat dalam gereja bertepuk tangan. Lampu-lampu pada semua rumah di Kote dipadamkan. Biasanya pemadaman ini dilakukan oleh semua ume usi neno. Bunyi-bunyian dengan bertepuk tangan dan memukul dinding rumah sambil menyerukan “poi ri rabu- enyahlah roh jahat”…!!! Tradisi ini dilakukan secara bersama oleh penghuni ume usi neno. Salah satu amnasit kemudian memanggil /menyebut nama rumpun sukunya masing-masing. Ritual ini dilakukan kurang lebih 5 menit kemudian lonceng gereja dibunyikan sekali lagi dan semua lampu dinyalakan kembali. Dengan demikian, Ritual Trebluman selesai.

 PROSESI TANIU UIS NENO /SOET OE

Ritual taniu uis neno dilaksanakan pada Kamis Putih yang merupakan ritual pembersihan dan penyerahan diri kepada Sang Khalik sekaligus ungkapan rasa syukur atas nikmat dan berkat yang diperoleh dalam satu tahun perjalanan hidup. Dan ungkapan kebersamaan – nek mese ansaof mese semua rumpun suku setiap ume mnasi, ditandai dengan upacara pembersihan patung relegi /benda devosi dan pengumpulan persembahan hasil usaha berupa buah -buahan di ume mnasi oleh setiap anggota suku ume mnasi (bua pa’) dan pengumpulan buah-buahan ke ume mnasi lainnya yang masih memiliki ikatan kekerabatan (bua lo’et). Air hasil pembersihan patung-benda religi digunakan untuk membasuh wajah dada kaki dan tangan sebagai lambang pembersihan diri dan membawa kedamaian- manikin oe tene. Prosesi selanjutnya adalah Doa Pengambilan Air / Soet Oe oleh pastor. Usai doa, semua umat berarak ke sungai yang terletak di dekat gereja untuk mengambil air / soet oe dan dua batu pipih yang akan digunakan membersihkan patung/benda. Dua batu pipih digunakan untuk menghaluskan tebu sebagai alat pembersih patung-benda religi kemudian berarak kembali ke gereja untuk pemberkatan air. Dari gereja masing-masing kembali ke ume uis neno untuk membersihkan patung/ benda religi. Air dari pembersihan patung digunakan untuk membasuh wajah-dada –kaki dan tangan setiap anggota rumpun suku perlambang pemberihan diri dan pembawa damai. Pada siang hari mulai jam 14.00 sampai 16.00, setiap anggota rumpun suku ume mnasimengumpulkan dan mempersembahkan buah-buahan (bua lo’et) ke ume mnasi masing-masing, dilanjutkan dengan pengumupulan buah-buhan dan sirih pinang (mamat) ke ume mnasi yang memiliki kekerabatan- bua pa’ KURE Setelah misa Kamis Putih dan Jumad Agung umat secara berkelompok melakukan Kure dari satu UMe Uis Neno ke Ume Usi neno lainya. Terdapat 27 Ume Mnasi di Kote yang melaksanakan Kure. Kure Adalah tugas pemeliharaan Iman umat yang diembankan kepada tetua adat pada umemnasi-uume mansi dimana bila tidak ada gembala umat untuk melaksnakan tugas pelayanan numat. Sebagaimana arti kata Kure yang di serap dari kata Perancis-Cure; sebutan bagi orang yang bertugas untuk menangani urusan memeliharaan rohani umat beriman dalam wilayah tertentu. Umat katolik di Noemuti terus memperingati prosesi masuknya agama Katolik dengan terus memeliara tradisi kuno itu hingga kini. Prosesi religius yang kaya akan nuansa iman ini dilakukan di Paroki Hati kudus Yesus, Kecamatan Noemuti Kabupaten Timor Tengah Utara. Para penganutnya juga terus mengenang saat pendudukan Tentara Portugal atas Belanda di Noemuti. Kala itu Tentara Portugis (Topasis) yang datang bersama para imam Katolik Fransiskan mulai menyebarkan misi iman Katolik ke pulau Timor lewat pintu masuk Noemuti. Misi mulia ini mendapat simpati dan terus dikenang hingga sekarang. Sebagai perwujudannya, alat-alat perang diganti dengan buah-buahan dimana tebu dijadikan sebagai senapan, jeruk dan buah-buah lainnya sebagai pelurunya sementara sagu/uk sebagai upaf / mesiu. Usai dilakukan misa Inktulurasi buah-buahan itu dibagikan kepada umat sebagai tanda damai. Tanda syukur atas kemenangan perang diganti dengan damai.

 SABTU ALELUYA 

Setelah misa Sabtu Alleluya dilaksanakan, umat setempat merayakannya dengan pesta tradisi dan berbagi sukacita. Menggelar tarian Bonet bersama di paroki sebagai ungkapan syukur akan kebangkitan Kritus. Perayaan sukacita ini juga terus berlanjut hingga keesokan harinya pada Perayaan Paskah. Kemeriahan pesta paskah dipastikan terus menyelimuti umat setempat dengan aneka tarian gong, bidut dan lain sebagainya. Pesta ini digelar usai Misa Hari Raya Paskah 

SEF MAU 

Salah satu tahapan dalam prosesi Kure di Kote Noemuti yang harus dijalankan adalah upacara pembersihan kembali patung/benda-benda kudus usai perayaan Paskah yakni Sef Mau.Pada upacara ini, hiasan ume uis neno maupun buah-buhan dan air serta minyak memandikan/membersihkan patung/benda devosional dikumpulkan lalu dibawa ke sungai selanjutnya dihanyutkan sebagai tanda melepaskan noda dosa karena telah diselamatkan oleh kebangkitan Kristus dan menjadikan mereka manusia baru. Pada prosesi ini, masing-masing ume uis neno dengan mengarak kabi buset menuju ke gereja mengawali ritual sef mau. Imam menerima sapaan adat dan kabi buset dipersembahkan dalam gereja, dilanjutkan dengan melepaskan ma putu-ma lala di sungai. Perarakan kabi buset di mulai dari ume Salem ke pendopo gereja- berarak menuju ume uis neno hanoe lalu menuju ke sungai. Tutur adat dilakukan sebelum pelaksanaan ritus sef mau di sungai kemudian penanggalan selimut dan membuang sisa-sisa bahan treb-loet, hiasan/dekorasi ke sungai. Selanjutnya peserta ritus sef ma’u membasuh tangan-muka sebagai tanda kemenangan bala telah ditinggalkan dan kembali mendapat kesejukan-kebersihan manikin oe tene.***

Comments

Popular posts from this blog

HEL KETA : UPACARA REKONSILIASI ANTAR-WILAYAH

Tips Meningkatkan Rasa Percaya Diri

4 Cara Kompres PDF agar Ukurannya Lebih Kecil